Kategori
Uncategorized

Keunikan Aceh Dari Kaca Mata Pendatang

Keunikan Aceh Dari Kaca Mata Pendatang –  Secara garis besar ada dua narasi yang berkembang, narasi pertama berasal dari Pemerintah Aceh dan narasi kedua berasal dari akademisi di luar pemerintahan. Data-data yang bersumber dari Pemerintah Aceh cenderung penuh dengan optimisme dan berita positif sedangkan analisis dari sumber di luar Pemerintah cenderung meragukan optimisme tersebut.

Mengutip dari thedehealth.com Perbedaan sudut pandang tersebut sebenarnya sangat wajar, ibarat sebuah gelas yang terisi air setengah. Sebagian pihak akan mengatakan gelas tersebut ‘setengah penuh’ dan sebagian lagi akan mengatakan gelas itu ‘setengah kosong’.

Kedua pendapat bisa dibenarkan, meskipun itu berpotensi membuat bingung masyarakat awam yang membacanya.

Dskusi cukup hangat terjad misalnya dalam berita hengkangnya PT. Trans Continent dari Kawasan Industri Aceh (KIA-red) Ladong. Berita-berita penuh optimisme dawal tahun mengenai meningkatnya realisasi investasi d Aceh mendadak menguap dengan berita mengenai PT. Trans Continent yang menarik alat-alat kerja dari KIA Ladong karena ketiadaan infrastruktur dasar seperti air bersih, listrik, dan lain-lain. Padahal Ismail Rasyid selaku Chief Executive Officer (CEO) merupakan putra asli Aceh.

Sejak Januari 2019, Penulis bertugas d Aceh, tepatnya Kota Banda Aceh, dan sekali dalam sebulan pergi ke Bekasi untuk menemui keluarga. Sebelumnya Penulis pernah bertugas d Sumatera Barat pada tahun 2005 sd 2009, dan pernah bertugas d Kota Medan pada tahun 2009 s.d 2014. Penulis tinggal d Kota Banda Aceh dan beberapa kali berkeliling Aceh mengunjungi Sabang, Lhokseumawe, Meulaboh, Langsa, hingga Subulussalam.

Kaca Mata Pendatang Yang Netral
Berdasarkan pengalaman selama hampir 2 tahun tinggal d Aceh Penulis merasa. bahwa kondsi provinsi paling barat Indonesia ini tidaklah terlalu buruk, tidak seperti yang. dgambarkan orang yang belum pernah singgah ke Aceh. Meskipun tidak terlalu buruk namun masih banyak usaha. yang pelu dlakukan Pemerintah Aceh. untuk memajukan Provinsi paling barat Indonesia ini. Mari kita rinci dengan lebih detail.

* Kondisi jalan sangat bagus.

Ini bukan melebih – lebihkan, kondsi jalan d Aceh jauh lebih bagus dbandngkan rata – rata daerah. lain d Indonesia, bahkan lebih bagus dari kondsi jalan d pulau Jawa sekalipun. Bagi pembaca yang sering bepergian ke kota Medan pasti bisa. merasakan perbedaan kualitas jalan d Aceh dan d Sumut begitu melewati perbatasan. Keunikan Aceh Dari Kaca Mata Pendatang

* Jarang dtemui kampung/gampong yang kumuh.

Kampung yang belum berkembang d Aceh sangat banyak, namun kondsi kampung relatif bersih dan tidak terlihat kumuh. Dan kondsi ini tidak hanya kampung. namun juga tempat ibadah (masjid). Bagi yang pernah beribadah d Masjid Raya Baiturrahman pasti merasakan. suasana yang nyaman dan bersih, plus fasilitas parkir yang mumpuni. Penulis beberapa kali sholat d Masjid Istiqlal Jakarta, percaya atau tidak kondsi Masjid Raya Baiturrahman. lebih well organized dbandngkan Masjid Istiqlal. Atau bagi pembaca yang pernah mengunjungi Masjid Raya Al Mahsun d Kota Medan silakan bandngkan sendri.

* Tidak ada calo atau preman d terminal bus, dan toilet d terminal relatif bersih.

Penulis beberapa kali menggunakan jasa angkutan umum dari terminal bus d Batoh, terminal L300 Lueng Bata, terminal Lhokseumawe, dan terminal Takengon, selama pengalaman tersebut tidak sekalipun penulis menemui adanya calo atau preman d terminal. Jika pun ada yang menawari tiket harganya sama dengan jika datang sendri ke loket.

* Drainase kota relatif bagus.

Tanggal 07-09 Mei 2020 Banda Aceh dan sekitarnya danda hujan lebat nyaris tiga hari nonstop, beberapa lokasi sempat dlanda. banjir. Penulis turut berduka cita atas banjir yang melanda. Namun demikian, faktanya adalah banjir hanya berlangsung singkat, tidak sampai berlarut-larut. Bagi penulis yang kebetulan. tinggal d Bekasi, hujan 3 hari nyaris nonstop tanpa menimbulkan ‘banjir yang berlarut-larut’ seperti itu merupakan sesuatu yang positif. Keunikan Aceh Dari Kaca Mata Pendatang

* Perasaan ‘Medan Sentris’.

Pastinya tidak hanya menghabiskan waktu, tapi juga uang. Dan seringkali warga Aceh bahkan lebih senang memiliki kendaraan dengan plat nomor BK dbandngkan BL. Dari sudut pandang nasional hal ini sebenarnya sah-sah saja, “toh Medan dan Aceh masih sama – sama bagian dari Indonesia” . Namun jika kita melihat dari sudut pandang Pemerintah Aceh hal ini sebetulnya tidak ideal.

* Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (APBA) sejauh ini sangat dtopang oleh Dana Otonomi Khusus (Otsus-red).

Pemerintah Aceh harus berusaha mencari sumber alternatif sekiranya Dana Otsus tidak lagi dberikan pasca . 2027 nanti, tantangan terbesar adalah bagaimana agar ‘Dana Otsus tetap berputar d Aceh’. Apakah Dana Otsus tidak berputar d Aceh? Keunikan Aceh Dari Kaca Mata Pendatang

Sebagian mungkin, tapi sebagian lagi sepertinya . berputar d provinsi tetangga khususnya Kota Medan. “Dlain pihak penerimaan pajak yang dhimpun dari Provinsi Sumut lebih besar dari dana yang dsalurkan.”

* Kurang memanfaatkan keunggulan utama berupa lokasi.

” Sebagian besar kapal-kapal ini singgah d Singapura dan menjadkan Port of Singapore menjad pelabuhan tersibuk kedua d dunia. . Malaysia sudah berusaha mengambil sebagian kue tersebut, misalnya dengan membangun pelabuhan raksasa Port Klang dan Port of Tanjung Pelepas.”